JJ Redick Bahagia Dengan Skill Pemain Lakers
JJ Redick Bahagia Dengan Skill Pemain Lakers. Musim basket Amerika memasuki babak seru di awal November 2025, dengan Los Angeles Lakers menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di bawah komando pelatih kepala JJ Redick. Baru saja menutup laga tandang melawan Charlotte Hornets dengan kemenangan tipis, Redick tak segan menyuarakan kegembiraannya atas kualitas skill para pemainnya. “Mereka punya bakat alami yang luar biasa, dan saya senang melihat bagaimana itu berkembang,” katanya dalam konferensi pers pasca-pertandingan. Sebagai mantan pemain sharpshooter yang kini bertransformasi menjadi taktisi cerdas, Redick—yang ditunjuk sebagai pelatih utama pada Juni 2024—telah membawa angin segar ke tim berjuluk Purple and Gold ini. Dengan rekor awal 7-3, termasuk pertahanan tangguh meski tanpa bintang utama seperti LeBron James, kegembiraan Redick mencerminkan optimisme yang menular. Cerita ini bukan hanya soal angka di papan skor, tapi bagaimana skill individu pemain menyatu menjadi kekuatan tim yang solid, siap menaklukkan musim yang panjang dan kompetitif. BERITA BOLA
Awal Musim yang Menjanjikan di Bawah Redick: JJ Redick Bahagia Dengan Skill Pemain Lakers
Sejak melatih Lakers untuk pertama kalinya, Redick langsung menanamkan filosofi sederhana: manfaatkan skill apa adanya, tapi poles hingga mengkilap. Musim 2025-26 dimulai dengan langkah mantap, di mana tim meraih empat kemenangan dari lima laga pertama, termasuk kemenangan meyakinkan atas San Antonio Spurs. Redick, yang dulu dikenal sebagai pemain cerdas dengan akurasi tembakan tiga poin mencapai 41 persen sepanjang karirnya, kini fokus membangun fondasi pertahanan. “Kami sudah menunjukkan kedisiplinan yang bagus, bahkan saat absen pemain kunci,” ujarnya usai laga melawan Atlanta Hawks, meski berakhir dengan kekalahan. Data musim ini menunjukkan Lakers membatasi lawan rata-rata di bawah 105 poin per pertandingan, prestasi yang membuat Redick tersenyum lebar.
Yang membuatnya bahagia adalah adaptasi cepat para pemain terhadap skema barunya. Luka Doncic, yang bergabung musim panas lalu sebagai wajah baru franchise, telah menjadi motor serangan dengan rata-rata 28 poin dan 9 assist. Redick sering memuji visi permainan Doncic, yang mirip dengan gaya dirinya dulu. “Dia bukan hanya scorer, tapi playmaker yang bikin orang lain bersinar,” katanya. Sementara itu, Austin Reaves—pemain lokal yang tumbuh di Oklahoma—menjadi pilar tak terduga. Dengan kemampuan bertahan dan menembak dari jarak jauh, Reaves mencetak 22 poin di laga terakhir, membuat Redick yakin ia bisa jadi pemimpin di samping veteran seperti LeBron. Awal musim ini seperti kanvas kosong yang Redick lukis dengan skill pemain, menghasilkan tim yang lebih kohesif daripada musim sebelumnya.
Komentar Positif terhadap Pemain Kunci: JJ Redick Bahagia Dengan Skill Pemain Lakers
Redick tak pelit dalam memuji skill spesifik para anak asuhnya, terutama yang sering luput dari sorotan. Ambil contoh Rui Hachimura, forward asal Jepang yang baru saja menandatangani perpanjangan kontrak. Dalam laga melawan Spurs, Hachimura menyumbang 18 poin dan 10 rebound, termasuk blok krusial di menit akhir. “Rui punya skill low-post yang langka, dan dia semakin percaya diri,” kata Redick, yang terlihat bertepuk tangan antusias dari pinggir lapangan. Kegembiraan ini datang setelah Redick sempat menantang Hachimura untuk lebih agresif, dan hasilnya terbayar lunas. Begitu pula dengan De’Andre Ayton, center baru yang bergabung via trade, yang mendominasi paint dengan rata-rata 12 rebound per laga. Redick menyebut chemistry Ayton dengan Doncic sebagai “seni”, di mana passing akurat Doncic sering berujung dunk mudah.
Tak ketinggalan, rookie seperti Bronny James dan Adou Thiero juga dapat pujian hangat. Bronny, putra LeBron, menunjukkan peningkatan decision-making yang pesat di latihan, meski debut NBA-nya masih menanti. “Saya senang lihat bagaimana dia membaca permainan sekarang—itu skill yang tak bisa diajari semalam,” ujar Redick, yang berharap Thiero bisa debut selama road trip saat ini. Bahkan di lini cadangan, Jake LaRavia dan Nick Smith Jr. menjadi kejutan dengan kemampuan bertahan agresif mereka. Redick sering bilang, “Skill ini bukan hadiah, tapi hasil kerja keras harian.” Komentar-komentarnya yang jujur tapi mendukung ini menciptakan suasana ruang ganti yang positif, di mana pemain merasa dihargai atas kontribusi unik mereka. Di tengah jadwal padat, kegembiraan Redick atas detail kecil seperti ini menjadi penyemangat bagi tim yang haus gelar.
Strategi Pembinaan dan Harapan Masa Depan
Lebih dari sekadar pujian, kegembiraan Redick tercermin dalam strategi pembinaan yang inovatif. Ia menerapkan sesi latihan fokus pada skill individu, seperti drill khusus untuk meningkatkan akurasi tembakan Reaves atau footwork Ayton. “Saya bahagia karena mereka merespons dengan cepat—itu tanda tim yang lapar,” katanya dalam podcast pribadinya pekan lalu. Redick juga menekankan peran kepemimpinan, menantang Reaves untuk jadi suara di lapangan saat LeBron istirahat. Hasilnya, Lakers finis babak pertama melawan Hornets dengan unggul 15 poin, berkat serangan balik cepat yang lahir dari skill bertahan kolektif.
Harapan Redick untuk masa depan tak terlalu muluk: finis top-3 di Barat yang kompetitif dan playoff yang dalam. Dengan Luka Doncic sebagai kandidat MVP dan LeBron yang masih produktif di usia 41, ia yakin skill tim ini bisa bersaing. “Kami punya campuran veteran bijak dan pemuda lapar—kombinasi sempurna,” tambahnya. Meski ada momen frustrasi, seperti setelah kekalahan lawan Hawks di mana ia memanggil timeout dengan wajah tegang, Redick cepat kembali ke mode positif. Strateginya ini bukan hanya soal menang sekarang, tapi membangun fondasi jangka panjang, di mana skill pemain terus diasah hingga jadi senjata mematikan. Di mata Redick, Lakers bukan lagi tim transisi, tapi kontender sejati.
Kesimpulan
Kegembiraan JJ Redick atas skill pemain Lakers adalah sinyal kuat bahwa musim ini bisa jadi momen kebangkitan. Dari awal yang menjanjikan hingga pujian tulus bagi bintang-bintangnya, Redick membuktikan dirinya sebagai pelatih yang paham betul bagaimana memaksimalkan bakat. Dengan rekor solid dan chemistry yang semakin matang, Purple and Gold siap menghadapi tantangan Barat yang brutal. Bagi Redick, bahagia bukan akhir, tapi bahan bakar untuk perjuangan lebih keras. Saat bola kembali menggelinding, satu hal pasti: di bawah asuhannya, skill para pemain akan terus berkembang, membawa mimpi gelar lebih dekat ke kenyataan. Lakers bukan hanya tim—mereka adalah cerita sukses yang sedang ditulis ulang.