Cunningham Sedih Usai Streak Kemenangan Pistons Berhenti
Cunningham Sedih Usai Streak Kemenangan Pistons Berhenti. Cade Cunningham, bintang Detroit Pistons, tak bisa sembunyikan kekecewaannya usai kekalahan 117-114 dari Boston Celtics di NBA Cup Rabu malam. Free throw yang meleset di detik-detik akhir hentikan streak kemenangan 13 laga—rekor franchise yang setara dengan tim juara 1990 dan 2004. Dengan 42 poin, delapan rebound, dan lima assist, Cunningham jadi pahlawan sekaligus “penjahat” malam itu. Pistons, yang naik dari lubang 28 kekalahan beruntun musim lalu, kini 15-3 dan tetap puncak Timur. Tapi bagi Cunningham, ini “bump in the road” yang sakit. “Kami semua ingin itu malam ini,” katanya pasca-laga, suara sedih tapi tekadnya jelas. INFO CASINO
Jalur Streak yang Historik: Cunningham Sedih Usai Streak Kemenangan Pistons Berhenti
Streak 13 kemenangan ini tak biasa untuk Pistons. Mulai dari kemenangan tipis lawan Indiana Pacers 122-117 pada Senin malam, tim J.B. Bickerstaff sapu bersih lawan kuat: double-digit menang atas Chicago Bulls, Orlando Magic, dan Milwaukee Bucks. Rata-rata margin kemenangan 10,5 poin, dengan Cunningham pimpin serangan—27,3 poin, 9,9 assist, 5,4 rebound per laga. Ini naikkan mereka ke 15-2 sebelum kalah Celtics, top Timur dengan plus-82 net rating. Bickerstaff bilang, “Kami lakukan segala yang direncanakan musim ini—tapi ini bagian NBA.” Streak ini tandai turnaround: dari 28 kekalahan beruntun 2023-24 yang bikin Cunningham “flicker in the darkness”, kini ia MVP candidate top-5.
Momen Penentu: Free Throw yang Meleset: Cunningham Sedih Usai Streak Kemenangan Pistons Berhenti
Kekalahan Celtics jadi akhir dramatis. Pistons trail 113-110 saat Jordan Walsh foul Cunningham di midcourt—ia dianggap in the act of shooting three. Cunningham buat dua free throw, tapi yang ketiga meleset, biarkan Payton Pritchard rebound dan buat dua free throw sendiri. Dengan 2,4 detik tersisa, Jalen Duren lempar bola ke Walsh, turnover yang tutup cerita. Celtics, dipimpin Jaylen Brown (33 poin, 10 rebound) dan Derrick White (27 poin), tembak 46,5% dari tiga (20-43). Pistons, meski punya lima pemain double figures—termasuk Duren (12 poin, 16 rebound)—gagal eksekusi akhir. Cunningham, 12-26 tembakan, bilang, “Kami beri peluang mudah, tapi kami posisikan diri untuk shot akhir. Itu saja.”
Reaksi Sedih Cunningham dan Dukungan Tim
Cunningham tak sembunyikan kesedihannya. “Kami paham ini satu laga, tapi kami tak main terbaik,” ujarnya ke ESPN. Ia puji tim: “Defense tinggi, connected—semua yang kami mau.” Tapi emosi terlihat: ruang ganti sunyi, fokus ke depan. Bickerstaff tambah, “Kami belajar, dan semoga tak sebaik ini di April.” Ini kontras dengan euforia streak: setelah menang Pacers, Cunningham “drop the mic” soal naik dari low ke high. Fans Pistons, yang dulu frustrasi, kini dukung penuh—ini start terbaik melalui 18 laga sejak 1954. Streak henti, tapi momentum tetap: Pistons top East Group NBA Cup, lolos quarterfinals 9 Desember.
Kesimpulan
Streak 13 kemenangan Pistons berhenti dengan sedih bagi Cunningham, tapi ini cuma “bump” di jalan panjang. Dari 28 kekalahan beruntun ke rekor franchise, perjalanan ini tunjukkan ketangguhan. Kekalahan Celtics ajarin eksekusi akhir, tapi dengan Cunningham sebagai leader—dan tim solid seperti Duren dan Tobias Harris—Pistons siap bangkit. Lawan Magic Jumat ini jadi kesempatan baru. Di NBA, streak henti tak akhir cerita; ia bahan bakar untuk gelar. Pistons, dari rock bottom ke contender—semangat, Cade!